Selasa, 28 Maret 2017

MDP V NET TV

MDP (MANAJEMEN DEVELOPMENT PROGRAM) 5 NET TV
Kali ini MDP 5 di adakan di Sentul International Convention Center, Bogor. Bingung kesananya gimana karena nggak ada satu pun saudara yang tinggal di Bogor, paling banter Tangerang sama Depok UI. Pokoknya berangkat ajalah, bismillah, nanti dipikir begitu sampai sana. Toh di Jakarta apalagi Bogor udah ada Ojek Online sejenis Grab, Uber atau Gojek. Berangkatlah tanggal 21 Maret naik kereta dari Yogjakarta. FYI baru 5 hari tinggal di Yogja, nggak banyak kenal orang dan nggak tau jalan.

Skip – skip – skip, kalian pastinya udah penasaran sama proses seleksinya. Di Undangannya ujiannya akan dilaksanakan pada hari rabu, 22 Maret jam 9. Diharapkan peserta sudah hadir jam 8 dan di video yang ada di zulu kalau bisa dua jam sebelumnya untuk menghindari macet (And, damn! Is true, macet menuju SICC). Oh ya, jangan lupa untuk cetak undangan dan kartu peserta karena dua hal tersebut penting, patuhi semua syarat dan ketentuan like tali hitam atau mika untuk taruh kartu peserta (saking patuhnya aku sampai ngimtung pakai penggaris untuk mikanya).

Antri panjang banget, untuk tes MDP 5 dibagi beberapa bacth, bacth 1, 2 dan 3. Untuk masuknya disesuaikan dengan gate (gatenya dikasih nomor). Kebetulan nomer tes ku 06135, masuk via gate 8, cukup lama antrinya nunggu barisan depan masuk dulu. Sebelum masuk dikasih lembaran untuk Pauli dan tes kepribadian, begitu masuk langsung disuruh duduk dan mempersiapkan seperti papan jalan (wajib banget bawa! Buat pauli). Kita di sambut sama mba Anjani dan mas siapa lupa, mereka yang mencari opening dan MC. Kita disambut sapaan hangat dan juga perkenalan singkat dari mereka, cerita yang menyenangkan dari kerja di Net dan juga beberapa kali mereka memanggil peserta kedepan menanyakan apa yang mereka daftar (kebetulan aku mendaftar sebagai Editor) yang berani maju dikasih hadiah.

Net TV benar-benar bikin terpukau, bener-bener pengin jadi bagian dari Net TV. Seragamnya yang kece, program kerja yang waw, cara kerjanya, tempat kerjanya, beda banget dengan televisi-televisi lainnya.

Jam 10 kurang 5, tes Pauli dimulai (tau kan tes pauli, ituloh yang lembaran penuh angka dan kita disuruh ngitung dari atas sampai bawah?) susah, apalagi ga ada meja, cuma pakai papan jalan. Udah gitu kanan kiri ada orang, bergerak dikit kena sebelah kanan dan sebelah kiri. Selama satunya mengerjakan tes Pauli. Setelah itu dilanjut dengan tes kepribadian (nanti coba aku search soalnya di google dan aku sertakan disini ya). Setelah tes selesai, batch 2 sebagian sudah masuk. Pak Wisnutama datang dan memberikan sambutaaaan! Huaaaa~ mas Tama! Ternyata di sela-sela sambutan akhirnya diketahui kalau yang mendaftar MDP 5 75ribu, yang lolos psikotes 50ribu.
Jam 2 kelar karena dilanjut untuk batch selanjutnya, katanya batch 2 dan 3 dihibur sama yang isi the east sama ok-jek.


Untuk pengumumannya keesokan hari tanggal 23 Maret 2017. Dan sayangnya... aku gagal. Hehe. Sedih, jelas. Tapi nggak apa-apa, aku sadar kalau aku sangat kurang saat tes kemarin apalagi di tes paulinya, kakak kelas ku yang kebetulan ikut dan lolos (lanjut ke psikotes lanjutan untuk tes paulinya dia nambah lembar yang baru). Mungkin belum rezeki, tahun depan daftar lagi di MDP VI.
Share:

Jumat, 16 Desember 2016

TES TERTULIS OMBUDSMAN

Hai ! Ini entah untuk keberapa kali aku nulis mengenai sesuatu selain cerpen dan novel tapi berupa pengalaman atau cerita sedikit tentang kehidupan. Kali ini aku bakal cerita tentang tes tertulis Ombudsman, kenapa harus tes tertulis Ombudsman? Apa karena tes itu merupakan tes tertulis pertama ku untuk mencari kerja? Bukan—tapi karena aku merasakan bagaimana susahnya cari tau apa sih yang bakal keluar di tes tertulis Ombudsman. Cari kesana kesini nggak banyak info mengenai hal itu, hanya ada satu di kaskus. Itupun hanya garis besarnya saja, ada kaskuser yang bilang Tes Tertulis kisi-kisinya adalah pelajari UU 37 tahun 2008 dan UU 25 tahun 2009 (kedua UU tersebut adalah UU mengenai Ombudsman dan pelayanan publik, harus digaris bawahi Ombudsman adalah lembaga pemerintahan yang menangani masalah pelayanan publik.

Oke—jadi begini ceritanya~

Alhamdulillah lolos seleksi administrasi Ombudsman batch 2 di Jakarta karena pilihan pertama memang Jakarta dan pilihan kedua di Kalimantan Selatan. Karena untuk yang Jakarta peminatnya sangat banyak sebesar 2812, bisa dikategorikan cukup banyak karena memang Ombudsman Jakarta slotnya lebih banyak ketimbang yang lain yaitu 53 orang asisten. Dibagi 3 tempat, kebetulan aku tes di Gedung Nyi Ageng Serang Jakarta Selatan, disana ada 512 yang tes dari 2812 dan yang akan diambil untuk tes selanjutnya hanya 160 orang.

Tesnya terbagi jadi 2 sesi, sesi pertama 60 menit dan sesi kedua 90 menit.

Tes Pertama adalah tes pilihan ganda, soal-soalnya seputar UU 37 tahun 2008, UU 25 tahun 2009, Hukum Acara Pidana, Hukum Acara Perdata, Hukum Acara PTUN, Organisasi Ombudsman.

Beberapa contoh soal :
1.      Nama dibawah ini yang pernah menjadi petinggi Ombudsman....
2.      Kementrian apa yang mengurusi tentang pelayanan publik.....
3.      Yang mana yang merupakan hukum pidana....
4.      Yang mana yang merupakan hukum perdata....
5.      UU nomer berapa yang menjadi landasan terbentuknya Ombudsman...
6.      Tahun berapa Ombudsman dibentuk di Indonesia
7.      Ombudsman dengan sistem parlementer diselenggarakan dimana....

Itu beberapa contoh garis besar soal pilihan ganda Ombudsman yang saya dapatkan, oh ya—ada beberapa tipe soal, jumlahnya 4 (E, F, G, H) jadi peserta tidak bisa saling menyontek dan bekerja sama. Jumlah soal 72 pilihan ganda, lembar jawabannya LJK jadi teman-teman harus dan kudu bawa pensil 2B.

Tes Kedua~ Essai.

Setelah selesai sesi pertama, peserta dipersilahkan untuk istirahat 30 menit (Kalau nggak salah). Setelah waktu istirahat habis, peserta dipersilahkan masuk dan diberikan tiga lembar HVS untuk sesi kedua. Peserta diperbolehkan untuk mengerjakan bolak balik atau hanya dibagian depannya saja (apabila merasa 3 lembar sudah cukup).

Soalnya ada 6, meliputi pengetahuan kamu mengenai wewenang Ombudsman, Tugas Ombudsman, Urutan proses perkara hukum di kejaksasaan,  apa sih alasan laporan di Ombudsam ditolak, pandangan kamu tentang pengelolaan pengaduan laporan – sistem pengelolaan pengaduan – respon penyelenggara pelayanan publik terhadap pengaduan laporan, dan—bedanya apa sih kalau kita lapor di Ombudsaman dan Penegak hukum.

Sekian cerita dari saja, semoga bermanfaat untuk teman-teman Batch 3 yang besok tanggal 19 ujian (kalau nggak salah). Nggak tau apakah soalnya sama atau tidak, jadi belajar yang lain juga, setidaknya pelajari garis besar yang aku cantumkan. Jujur nih ya, kalau nggak ada info dari kaskus, aku pikir ujiannya hanya psikotes tapi ternyata enggak. Jadi cuma punya kesempatan 2 hari untuk belajar.

Kak, diterima nggak Ombudsmannya? Alhamdulillah—belum keterima, saya gagal jadi 160 orang yang lolos di tes selanjutnya karena saingannya banyak dan pilihan gandanya memang banyak saya tidak mengerti. Ditambah lagi saya bukan orang hukum yang mengerti apa sih hukum perdata, apa sih hukum pidana.

Tapi nggak apa-apa, aku bakal coba lagi mungkin tahun depan. Hehehe. Doakan ya, semoga tulisan ini berkah untuk saya, bermanfaat untuk banyak orang. Semoga juga aku segera dapat pekerjaan. Aamiin.

Mau tanya-tanya lebih lanjut? Hahaha. DM instagram ku ya @dsae_olshop sekalian follow. XD


Share:

Minggu, 13 November 2016

BIKIN SKBN / Surat Keterangan Bebas Narkoba di Semarang

Kali ini aku bakal cerita dikit pengalaman ku buat bikin Surat Keterangan Bebas Narkoba atau nama kerennya SKBN. Biasanya surat ini diminta oleh perusahaan atau instansi pemerintah ketika kita diterima bekerja disana, namun kali ini berbeda karena instansi yang mau aku apply job meminta menyertakan SKBN. Kebetulan instansi tersebut meminta SKBN yang dibuat oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) atau Rumah Sakit Pemerintah.

Aku sempet searching di Google, rumah sakit pemerintah di Semarang itu apa aja sih? Karena aku bukan orang Semarang jadi agak bingung. Awalnya sempat bingung mau di rumah sakit mana? Di Google aku sih sempet nemuin kalau ada beberapa rumah sakit seperti rumah sakit Bhayangkara dan Ketileng (Fatmawati). Beberapa orang merekomendasikan cek di Rumah Sakit Karyadi, Rumah Sakit Diponegoro, Kantor Polisi yang di depan Karyadi dan juga CITO. Akhirnya setelah pertimbangan selama dua hari akhirnya aku memutuskan untuk memeriksa diri di RSUD Semarang atau lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Fatmawati atau lebih dikenal lagi sebagai Rumah Sakit Ketileng karena berada di jalan Ketileng.

Awalnya aku datang hari jum’at jam setengah 2. Dan—rumah sakitnya tutup karena jam kerjanya jam tujuh sampai jam sebelas, sedangkan untuk hari sabtu jam tujuh sampai jam sepuluh. Alhasil aku harus kembali lagi pada keesokan hari dan harus lebih pagi.

Dengan perjuangan cukup berat karena nggak biasa bangun pagi. Hahaha. Akhirnya aku datang di lokasi jam 9.45. 15 Menit sebelum tutup, tapi alhamdulillah masih diterima. Oke, aku bakal ceritain step-stepnya, cekidooooot!
1.      Masuk ke rumah sakitnya, naik lantai dua, nanti sampai dilantai dua kamu bakal nemuin ruangan Rekam Medik.
2.      Masuk ruangan itu, utarakan apa yang mau kamu utarakan. Hahaha. Yaitu ‘Membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba’. Oh ya, nanti kamu bakal ditawarin mau bikin surat kesehatan sekalian nggak? Nah, kebetulan aku sekalian bikin surat kesehatan jadilah langsung ngambil keduanya.
Untuk pembayarannya kalau kamu hanya bikin SKBN kamu cukup membayar 90.000, tapi kalau kamu juga sekalian bikin Surat Keterangan Sehat—kamu harus membayar 150.000 (artinya bikin Surat Kesehatan sebesar 60.000, itu sudah mencakup kesehatan umum, kesehatan mata dan THT). Tapi kalau mau lebih murah lebih baik kamu hanya bikin SKBN di sana dan untuk tes kesehatan kamu cek di puskesmas aja, cek kesehatan di puskesmas cuma 10.000 tapi yang jelas kamu nggak dapet cek kesehatan mata dan juga cek kesehatan THT. Oh ya, setelah dari ruangan Rekam Medik, kamu harus ke kasir lebih dahulu dan melakukan pembayaran.
3.      Sebenarnya yang bikin ribet cek kesehatannya, aku harus bolak-balik sana-sini, nyari ruangan karena ruangannya berbeda-beda. Kamu harus nyari ruangan ‘Poliklinik Umum / MCU’ , ‘Poliklinik Mata’, ‘PloklinikTHT’, lalu dilanjut ‘Laboraturium’ teruuuus ‘Bagian Umum Lantai 2 (Stempel RS)’ daaaaan ‘Rekam Medis’. Tenang untuk step-stepnya kamu bisa lihat di Map dan lembaran yang diberikan ibu-ibu di ruangan rekam medik.
4.      Setelah dapat hasil dari poliklinik-poliklinik yang aku sebutin tadi, aku langsung cari laboraturium. Buat yang cuma ambil tes buat SKBN kamu langsung aja ke laboraturium tanpa perlu ke poliklinik-poliklinik tadi karena poliklinik itu hanya untuk yang mau tes kesehatan. Nah disini kamu serahkan map kamu ke resepsionis, nanti kamu bakal dipanggil ketika giliran kamu.
Ketika nama dipanggil, kamu akan masuk keruangan ‘SAMPLING’. Nanti bakal dikasih botol kecil dan dapat pengarahan dari mas atau mba yang ada didalam ruangan itu. Intinya kamu disuruh pipis dan urinnya dimasukin disana, oh ya disana ada dua ruang kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, setelah menunggu beberapa saat. Hasilnya akan keluar dan diberikan sama kamu.
5.      Nah, udah kelar semua tuh. Kamu langsung aja kelantai 2 (seperti kamu mau ke ruangan rekam medik) cari ruangan ‘Bagian Umum’ dan bilang mau minta stempel. Nanti lembaran-lembaran yang kamu bawa bakal di stempel sama ibu-ibu yang ada disana.
6.      Setelah itu kamu ke ruangan rekam medik lagi. Jadi nanti kamu bakal dapat dua bandel surat, nah surat yang satu kamu pegang dan yang satu dibawa oleh pihak rekam medik untuk laporan atau data.

Okaaaaay! Itulah perjalanan yang aku lalui untuk mendapatkan SKBN di RSUD Ketileng. Semoga bisa membantu teman-teman yang mau melakukan tes kesehatan ataupun membuat SKBN. Doakan aku keterima di instansi yang aku inginkan yaa! Semoga bermanfaat, see you again.


Share:

Senin, 03 Februari 2014

Dinar Alam Nadya Azzahra

“Dinar Alam sama Nadya Azzahra itu siapa sih kak?” Itu pertanyaan adik gue begitu gue ngepost foto seorang cowok yang foto di tepi makam yang penuh bunga mawar merah, bukan hanya mereka sih, tepatnya temen-temen KKN gue dan juga temen-temen satu jurusan gue, intinya adalah banyak yang penasaran siapa dua orang itu.

Jujur, gue juga baru tau mereka belum lama, ya sekitar satu minggu ini. Itupun karena salah satu sepupu gue pakai display picture foto keduanya dengan narasi kalau ‘Dinar Alam adalah cowok yang setia karena tetap sayang sama seorang cewek yang notabane-nya udah nggak ada (read : meninggal).

Okey, mari simak cerita dibawah ini, semoga jadi inspirasi, sorry juga kalau ada pihak-pihak tertentu yang ngerasa keberatan sama tulisan gue ini, gue cuma seorang manusia yang suka nulis dan pengin menuangkan apa yang gue denger, baca dan lihat.

Dinar Alam dan Nadya Azzahra—keduanya pacaran sejak tanggal 20 januari 2011. Nadya suka Dinar lebih dahulu, sayangnya cowok yang merupakan adik kelasnya saat smp itu udah punya pacar. Tapi Nadya tetap bertahan, cewek ini tetap sayang, ngamatin Dinar dan setiap sholatnya slalu disebut namanya Dinar Alam. Jatuh bangun ngejar Dinar, terus berharap kalau Dinar bakal berantem dan akhirnya putus sama ceweknya. Dan do’a itu terkabul dan entah gimana ceritanya, akhirnya Dinar Alam pacaran sama Nadya Azzahra.

Pacaran sama adik kelas tentunya gampang-gampang susah, Nadya ngerasain banget waktu harus pindah sekolah karena dia sendiri udah lulus dari SMP itu dan harus ngelanjutin SMA. Perbedaan persepsi dan pemikiran jelas beda antara anak SMP dan SMA, apalagi cewek pemikirannya jelas lebih cepat dewasa daripada cowok.

Jelas awalnya kepikiran macem-macem, mungkin bakal main belakang atau mungkin endingnya bakal saling meninggalkan, tapi ternyata enggak. Terbukti mereka bertahan sampai dua tahun, bahkan disaat Nadya sakit kanker otak, Dinar setia mendampingi Nadya.

Dari stalking gue beberapa hari ini di twitternya @Dinaralam, @nadyanacil dan beberapa blog yang gue temuin yang ngebahas tentang mereka—pacaran mereka begitu asyik, mereka bersikap seperti teman namun mereka pacaran, jarang lah ada cowok dan cewek pacaran kayak mereka.

Kanker otak—ditahun 2012 Nadya sering pusing, namun gadis itu menganggap kalau semua itu cuma pusing biasa dan akhirnya membiarkannya. Tapi mungkin karena sudah terlalu sering, akhirnya Nadya check up ke dokter. Dokter memvonis kalau Nadya Azzahra terkena kanker, kemoterapi sudah dilakukan namun hasilnya—memang tergantung yang di atas.

Tanggal 22 maret, Ibunya Dinar yang cukup dekat dengan Nadya menelpon Dinar, meminta cowok itu datang karena Nadya kritis. Dan pada tanggal tersebut juga—Nadya menghembuskan napas terakhir, Nadya meninggal. Setelah mendengar kalau Nadya meninggal, Dinar menutup matanya, menutup telinganya dan menarik napas dalam-dalam (mungkin mencoba untuk tegar dan memastikan kalau semua itu bukan sekedar mimpi) kemudian ia menangis.

Nadya meninggal setelah anniversary ke 26 bulan pada tanggal 20 maret dan pada tanggal 31 maret Nadya berulang tahun. Dinar slalu datang kemakam Nadya saat ulang tahun, saat tanggal 20 dan saat anniversary ke-3 mereka.
Aaaa~ jujur gue sangaaaat pengin nulis cerita tentang mereka buat project novel gue berikutnya. Tapi semoga itu bisa di implementasikan.



“Yang bisa membuktikan cinta hanyalah sang waktu, mungkin kini ia menunggu mu, ia disisi mu namun mungkin besok, lusa atau nanti mungkin yang berada disamping mu bukan ia, tapi aku. #SSK” 
Share:

Minggu, 30 Juni 2013

Kardus Cinta

“Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint : buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 juni 2013.”

Tulisan ini tentang seseorang—dia bukan pacar ku, dia hanya gebetan yang tidak pernah jadi pacar ku dan baru sekitar tujuh bulan yang lalu ia meninggalkan ku—mematahkan harapan yang ku bangun lebih dari Sembilan bulan. Dan kardus ini berisi semua barang yang dia berikan dan juga barang yang ingin ku berikan namun tak pernah ku berikan padanya—karena waktu sudah terlanjur memisahkan kami. Sebut saja dia—Gema.

Gema adalah teman satu jurusan ku, dari awal aku lah yang pertama naksir dia, mengejar-ngejarnya dan pertama kali yang menyatakan cinta padanya. Dia menolak dan terus menolak, namun ia tidak beranjak jauh dari ku, terus menerus didekat ku, memberi perhatian dan memberikan harapan, sampai aku menganggap—tidak mungkin dia tidak mencintai ku?

Gantungan kunci, itu benda pertama yang ia berikan pada ku setelah ia pergi ke Jogjakarta, begitu sampai Semarang, ia langsung ke kos ku untuk memberikan gantungan kunci. Sebenarnya aku berharap lebih, aku inginkan lebih besar, setidaknya kaos Jogja lah. Tapi benda kecil itu membuat ku tak berhenti tersenyum saat itu—karena ada tulisan ‘I Love You’. Aku ke-geeran di buatnya saat itu, namun aku tidak bisa berkata apa-apa.

Kertas atau tepatnya lipatan kertas yang membentuk sebuah perahu kertas, yang ketika lipatan-lipatannya di buka, akan terlihat dua tulisan yang berbeda, tulisan aku dan dia, waktu itu aku sedang marah dengannya tidak mau bicara dengannya sehingga ia menulis dikertas dan memberikannya pada ku, jadilah kami berdua ngobrol di lembaran kertas yang akhirnya aku lipat seperti perahu kertas.

Merek minuman, ini konyol, ya sangat konyol. Aku menyimpan plastik merek sebuah minuman dalam kardus itu—tapi itu berharga, mengingatkan ku ketika pertama kalinya dia membelikan aku minuman tanpa ku minta, bahkan membukakan tutup minuman yang sebenarnya aku bisa buka sendiri, namun aku terlalu manja untuk membukanya.

Foto, aku sering sekali mencuri ketampanannya lewat jepretan foto dengan sembunyi-sembunyi dan dia tidak pernah tau itu. Foto saat dia ngupil, memperbaiki poni rambutnya yang agak alay, foto saat dia memperhatikan ku, foto saat dia presentasi tugas kuliah dan juga fotonya saat tidur, foto yang membuat ku memanggilnya dengan panggilan ‘kebo’.

Gelas, ini hadiah yang terakhir yang ia berikan pada ku—setelah pulang KKL dari Bali. Benda ini membuat ku takut, kecewa, sedih namun konyol dan senang. Rasanya ingin tertawa setelah melihat ada tempelan harga digelas itu, entah saking groginya, dia sampai lupa mencopotnya dan langsung memberikannya pada ku. Tapi—membaca tulisan yang ada di gelas itu membuat ku sedih karena inti tulisan itu adalah meminta ku untuk tidak lagi berjuang untuk memilikinya.

Ya—memang benar, setelah gelas itu ada ditangan ku, kisah kami berakhir. Kami tidak lagi mengirim pesan singkat seperti biasanya, saling menghindar dan itu menurut ku sangat menyakitkan. Aku sangat tersiksa bahkan untuk melupakannya aku sudah tidak bisa, apalagi terakhir ku dengar, ia sudah pacaran dengan gadis lain dari kampus yang sama.


Airmata ku menetes, melihat semua barang didalam kardus itu, membukanya mengingatkan ku dengan Gema, membuat ku kembali membuka luka lama. Mungkin cuma keajaiban yang bisa membuat dia kembali pada ku seperti dulu.
Share:

Jumat, 14 Desember 2012

Sinopsi "CINTA SEGITIGA SAMA SISI"



“Kenapa sih loe bisa suka sama gue?” Tanya Anan sambil menggenggam tangan Luna. “Apa sih kelebihan gue sampai loe suka sama gue?”
Luna menatapnya dari samping, Anan memandang langit, enggan menatap Luna yang sedang menatapnya, wajahnya memerah. Mereka sama-sama berbaring memandang langit malam itu, sayangnya tidak ada bintang disana, hanya beberapa, itu pun menyembunyikan pendar cahaya indahnya.
“Mungkin karena terbiasa.” Bisik Luna. “Kita kemana-mana bareng? Kalau ada gue, pasti ada elo sama Rira. Kalau ada elo ya pasti ada gue sama Rira, gimana nggak punya rasa kalau gitu?” Luna tertawa kecil, rasanya sudah nggak ada beban untuk menutupi perasaannya sebenarnya.
“Rasanya lucu ya?” Bisik Anan, ia lalu tertawa, namun expresinya langsung berubah ketika menangkap expresi kesal dari wajah Luna. “Maksud gue, rasanya lucu kalau tau hal apa yang bikin kita disukai.” Ia tersenyum. “Eh, berarti loe juga suka sama Rira dong?!” Katanya tiba-tiba.
“Ha? Maksudnya?” Tanya Luna kaget.
“Lha katanya gimana nggak punya rasa kalau kemana-mana kita bertiga selalu bareng? Elo bisa suka sama gue, gue juga bisa suka sama Rira, berarti loe juga bisa dong suka sama Rira?”
“Eh! Dasar ya!” Luna mencubit-cubit lengannya. “Gue masih normal ya?”
“Ampun-ampun!” Ia tertawa sambil menahan sakit. “Sini duduk, gue gambarin.” Anan bangun dan duduk, begitu juga dengan Luna.
Ia mengambil kayu lalu menuliskan sesuatu di lantai yang berdebu. “Nih ya. Ini gue, elo sama Rira.” Ia menggambar. “Ini gue, gue suka sama Rira.” Ia menggambarkan lambang cinta. “Terus ini elo, elo suka sama gue.” Ia kembali menggambarkan lambang cinta. “Dan ini Rira, dia suka sama elo.” Anan tertawa sambil menggambarkan lambang cinta.
“Maksud loe Rira nggak normal gitu? Dia udah punya Gio gitu.” Luna tertawa sambil memegang perut, Anan ikut tertawa, sepertinya sudah tidak ada beban untuk melepas Rira. “Cinta segitiga sama sisi ya?” Bisik Luna tersenyum.
“Bisa dibuat novel tuh.” Anan menopang dagunya dengan tangan kiri dan memandang ku. “Tugas loe yang bikin tuh novel.”
“Buat kenangan, kalau gue pernah suka sama loe.”Luna tertegun.
***

Share: