Kamis, 29 September 2022

Mengijabahi do'a

 

“Kita pasti akan bertemu lagi—.” Ucapan ku itu membahana, menatap foto mu dengan nanar air mata. “Dan ketika kita bertemu lagi—kamu akan menyesal tidak bersama ku—mencampakan ku.” Sumpah serapah ku ucapkan tanpa perduli, lupa doa-doa ku dulu yang meminta kamu bahagia bersama dengan ku. “Kamu akan menyesal—kamu akan…” Tangis ku pecah, tanpa mampu melanjutkan kata-kata, aku berharap Malaikat lewat lalu memberitahu Tuhan agar mengijabahi do’a—sumpah serapah ku.

***

Waktu berlalu—dan benar saja ku temu kan kamu berdiri didepan ku, menatap ku—menerka-nerka benarkan yang ada dihadapan mu adalah aku, ragu-ragu untuk menyapa. Sampai pada akhirnya aku membalas tatapan keraguan mu, hingga kamu tersenyum lebar menyapa ku terlebih dahulu.

“Sekar, kan?” Kamu menghampiri ku, seolah lupa apa yang kamu lakukan di tahun-tahun lalu. “Apa kabar?” Aku menyeringai, tersenyum penuh kemenangan—Tuhan mengijabahi do’a ku.

“Kami akan bertemu lagi—dan di saat itu terjadi, kamu yang akan lebih dahulu datang.”

“Maaf kamu siapa—.” Ucap ku sambil tertawa. “Tidak pernah lebih baik dari hari ini.”

***

Semoga Tuhan mengijabahi—

Sekarsae

Share:

Rabu, 22 Juni 2022

Ra, aku pamit ya?

 Ra, aku lelah menunggumu. Bolehkah aku berhenti?

Tapi sebelum aku benar-benar berhenti—bisakah kamu menahan ku seperti dulu kamu menahan ku untuk pindah kampus? Kamu bahkan sampai bilang—kalau aku pergi kamu akan merasa kehilangan, kalau aku pergi—kamu pasti sedih.

Masih ingat dingatan kata-kata mu saat itu, yang menghentikan langkah ku. “—kalau kamu pergi, pasti ada rasalah.” Hanya dengan kata-kata itu, aku berhenti bermimpi. Ah, ku ralat. Karena kamu—aku berhenti bermimpi, karena kamu lah mimpi-mimpi ku.

Tapi sayangnya, kamu—mimpi yang belum atau tidak jadi kenyataan. Aku pun tak tau.

Ra, aku lelah menunggu. Aku berhenti ya? Aku ingin menikah, menghabiskan waktu dengan seseorang yang aku cintai dan mencintai ku. Aku pergi ya—sampai ketemu lagi. Disaat nanti kita bertemu, berjanjilah kamu akan menyesal karena tidak bersama ku. Berjanjilah untuk itu. Berjanjilah, aku akan menunggu penyesalan mu.

Share:

Minggu, 05 Desember 2021

Followers

Sudah sekian lama kita tak bersua, bahkan nomer telpon mu pun aku tak punya. Kita hanya saling meninggalkan jejak di instagram—saling memfollow namun tak pernah saling menyapa. Saling melihat namun tidak pernah saling meninggalkan komentar, seolah stalker yang sekedar ingin tau.

Walaupun ku selalu benci dan berkata—untuk apa saling follow kalau tidak pernah saling menyapa, tapi nyatanya kehadiran mu di salah satu dari banyak orang membuat ku bahagia. Tak bohong ada rasa bahagia saat ada nama mu berteger dibagian teratas melihat instagram stories yang ku bagikan—dan kesal ketika tak ada nama mu dibarisan itu.

Dan tak bohong pula—kalau aku ingin terlihat bahagia walaupun sekedar di media sosial, agar kamu tau—aku baik-baik saja, aku sudah baik-baik saja tanpa mu. Walaupun aku doakan kamu bahagia di ujung perpisahan kita—aku tak benar-benar rela kamu bahagia, jangan bahagia, jangan pernah bahagia jika bukan dengan ku.

Share:

Minggu, 24 November 2019

Si pencemburu yang tidak tau diri


“Aku pencemburu yang tidak tau diri—.” Aku menyebutnya itu sejak dulu sejak pertama kali sadar aku menyukai mu dan menyadari kamu sudah memiliki kekasih. Sebagai yang punya hati pada mu, aku sudah cukup terluka menyukai orang yang telah dimiliki. Apalagi pemilik mu sempat menghantam jantung ku sembari mengatakan kamu adalah miliknya.

Dan begitu senangnya hati ku ketika tau yang memiliki mu telah hilang, kamu tak berpemilik. Aku tau kamu sadar—setelah tau kamu tak berpemilik—aku semakin terang-terangan menyukai mu, diam-diam pun aku mendoakan mu dalam doa ku berharap Tuhan membolak balikan hati mu dan memberikannya pada ku. Walaupun dengan lugas kamu berpernah bilang tidak akan mau bersama dengan ku.

Peduli setan tentang itu—aku tidak perduli, berkali-kali kamu mengatakan ‘tidak mau’, berkali-kali aku bilang pada Tuhan agar makhluk takabur seperti mu dibungkam dengan cara menjadi mau dengan ku, mau menjadi milik ku.

Sampai pada akhirnya, di sore di hari bahagia mu—jadi hari yang kembali menyakitkan untuk ku. Kamu memang tidak bicara seolah ‘tidak mau’ namun sikap mu mengatakan itu, kamu tidak menghargai cara ku memperhatikan mu dengan berdalih kita hanya teman, dan aku tak punya bayangan di mata mu. Dan esoknya tanpa menunggu jeda kamu meruntuhkan langit-langit rongga hati ku. Hancur—berkeping, luluh lantah tak berbekas. Aku berserakan tak beraturan. Aku mencoba berdiri namun roboh. Aku hancur—tak sisa. Kamu kini tak sendiri lagi, kamu dengannya—pemilik baru mu, atau haruskah aku panggil ia—kekasih mu? 

Share:

Kamis, 19 September 2019

Egois, Bodoh, Posesif dan Gila


Si egois ini—begitu tidak senang melihat mu pulang kerumah.

Padahal ia tau alasan mu pulang kerumah untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan orang tua mu. Tapi pasti saja ada waktu mu untuk bertemu dengan gadis itu bukan? Dia—cemburu, takut kamu pergi berdua dengan gadis itu, membunuh waktu bersama dengannya.

Si egois ini—begitu sedih setiap mendengar mu hendak pulang.

Dua hari akan ia lewati tanpa melihat mu, terlebih ia tak punya alasan untuk menanyakan kabar tentang keadaan mu. Ia selalu kebingungan bagaimana membunuh waktu untuk tidak merindu. Dua hari terasa berhari-hari.

Si bodoh ini—meradang setiap melihat mu dengan gadis baru yang kini sedang kamu tunjukan pada dunia.

Sayangnya ia tidak bisa apa-apa, karena dia memang sejak awal bukan siapa-siapa. Dan sejak awal—kamu memang sudah menekankan kalau kamu dan dia hanya sebatas teman. Ya—sebatas teman, tidak mungkin lebih. Menyedihkan.

Si posesif ini—begitu iri setiap melihat mu tersenyum dan bicara ramah dengan yang lain.

Sedangkan sikap mu dengannya berbanding terbalik, padahal ia sangat senang melihat mu tersenyum. Ia bersedia mendengar tanpa bicara untuk mendengar celoteh mu tentang hidup.

Si posesif ini—pencemburu

“Cemburu?” Sergah mu. “Merasa memiliki, kah?” Sialnya kata-kata itu membuatnya tak berkutik, bagaimana tidak—kamu bukan miliknya bukan? Jadi punya hak apa Ia untuk mencemburui gadis lain.

Si Bodoh ini—menyukai mu dalam diam

Walaupun ia merasa kamu tidak begitu bodoh untuk tidak sadar rasanya itu ada. Rasanya pada mu itu nyata. Kamu hanya pura-pura bodoh agar tak melukainya. Bagaimanapun kedepannya tidak akan baik jika tau lalu menolak rasanya bukan?

Si gila ini—lupa

Sebagaimana ia punya hak untuk mencintai mu, kamu pun punya hak untuk tidak membalas rasanya.

Si egois, si bodoh, si posesif dan si gila ini—mencintai mu dalam diam.

Dari pada merusak semuanya. Ia tak tau bagaimana cara untuk mencintai dengan benar, ia tidak tau cara memulai dengan tepat. Yang ia tau hanyalah berdoa pada Tuhan, untuk memalingkan wajah mu kearahnya—walaupun setidaknya saat bicara dengannya.

Aku.







Fiksi yang di fiksi-fiksikan
Love, Sekarsae
Share:

Selasa, 10 September 2019

Kecewa


Aku terpaku, napas ku terhenyak, waktu ku terasa berhenti sesaat. Sekejap langit seolah runtuh menjatuhi tubuh ku, aku jatuh dan tak mampu bangkit. Tiba-tiba rasa kecewa menyusup, lagi-lagi aku merasakan ini untuk kedua kalinya dengan mu.

Pertama dengan gadis itu—dan kali ini dengan gadis lain. Menyesakan, memang.

Aku begitu bahagia ketika hubungan mu berakhir dengan ‘gadis itu’, berharap ada kesempatan untuk memiliki mu walaupun tak pernah ku khayalkan sebelumnya. Namun hari ini aku melihat mu (lagi) dengan gadis lain, gadis baru. Dan—aku terluka tanpa pernah memulai sebelumnya.
Aku pikir kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka, tapi ternyata—semudah itu kamu menyembuhkan luka dan membuka hati secepat kilat seolah tak pernah terluka.

Rasanya sakit—kecewa, terluka.

Haaaah. Tapi bagaimana lagi aku sudah peringatkan dari awal untuk tidak jatuh cinta lebih dulu. Pada akhirnya(?) Yang jatuh cinta lebih dahulu, akan terluka lebih dulu (pula).

Share:

Memeluk mu dalam doa


Jum’at sore, sebelum negara api menyerang.

Aku ingin lebih banyak mendengar mu bicara; apa saja—aku juga ingin mendengarkan apa saja, keluhan mu, cerita mu, sedih mu, bahagia mu bahkan doa-doa yang selama ini kamu panjatkan. Aku akan jadi pendengar yang baik untuk mu.

Aku ingin mengenal mu lebih baik (lagi) dan lebih banyak serta lebih dalam. Ingin tau apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Aku ingin jadi yang paling tau hingga tak bersikap tak menyenangkan didepan mu.

Aku—ingin jadi orang yang merengkuh mu, memeluk mu, menenangkan mu, menghapus air maya mu, menjadi tempat mu bersandar ketika tengah sedih, gundah dan menangis.

Aku—mungkin tidak pernah akan jadi yang pertama di hidupmu, tapi aku ingin jadi yang terakhir. Yang akan menemani mu sampai salah satu dari kita menutup mata.

Aku tak bisa banyak janji, aku bukan perempuan baik dan tak begitu cantik. Sifat dan sikap ku buruk bahkan kadang menjengkelkan. Tapi aku pastikan, aku akan menghormati mu, mencoba berbahagi cara untuk membuat mu bahagia dengan cara ku.

Dari seorang gadis yang diam-diam mendoakan mu di seperempat malam.


Share: