Minggu, 29 Oktober 2023

Yang ditulis bukan yang tertulis.

 

“—hari ini ada yang nikah loh.” Seperti disambar petir di siang bolong, chat whatapp itu mengagetkan ku setengah mati—walaupun aku memang menduga suatu saat mau tidak mau, suka ataupun tidak suka—kalau kita tidak berjodoh, suatu saat aku akan mendengar kabar pernikahan mu. Hanya saja beberapa minggu yang lalu—atau mungkin sebulan terakhir, aku berdoa semoga akulah yang lebih dulu memberi kabar pada mu kalau aku akan menikah lebih dahulu, bukan malah sebaliknya.

Mendengarnya dari seorang teman setelah dua hari yang lalu kita saling mengucap doa baik—lebih tepatnya aku mengucapkan selamat ulang tahun pada mu di penghujung hari ulang tahun mu yang di balas template oleh mu sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi tidak ada terucap sedikitpun kabar akan pernikahan mu—setidaknya bukankah lebih baik ketika aku mendengarnya langsung dari mu?

Bingung—resah gelisah, bercampur jadi satu, takut dan—hancur. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak baik-baik saja mendengar kabar pernikahan mu—cinta pertama ku, kekasih pertama ku—orang yang pertama kali mengenalkan ‘cinta lawan jenis’ yang sesungguhnya.

Aku berjalan menuju ke kamar ibu, beliau sedang main handphone. “Ibu—.” Isakan ku pecah tanpa bisa ku tahan, aku yang paling anti bicara tentang mu pada orang tua ku—akhirnya luluh lantah di pelukan ibu. “Dia menikah—.” Tangis ku keras, aku yang selalu mencoba tegar karena anak pertama—panutan untuk adik ku, penopang keluarga—yang harusnya kuat luluh lantah, hancur berserakan. “Kalau bukan dia lalu siapa?” Teriak ku di pelukan ibu yang mencoba menenangkan ku. “Lalu siapa?” Beliau bingung namun mencoba terus menenangkan ku, memberikan ku waktu untuk menyelesaikan tangisan ku. “Bagaimana dengan ku, bu?” Ibu menepuk-nepuk punggung ku, mengusapnya, memberikan kata-kata penenang yang semuanya mental dengan ku. “Bagaimana dengan ku, bu—.”

Teringat doa ku diawal tahun di tanah suci ketika umroh, aku menulis nama ku dan nama mu di Ka’bah, menuliskan nama mu di batu yang ada di Jabal Rahmah—tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa—aku berdoa semoga jika kita berjodoh, Allah mudahkan kita bersama walaupun sejauh apapun kita berada—Jawa dan Kalimantan—, namun jika kita tidak berjodoh berikan aku alasan untuk tidak terus menunggu, agar perasaan ku selesai tanpa perlu di teruskan. Aku lelah—aku ingin berlapang dada, aku tidak ingin kamu menghalangi pertemuan ku dengan jodoh ku yang sebenarnya.

Dan—hari itu, Tuhan mengijabahi do’a ku tentang mu. Allah berikan alasan yang memang menyakitkan tapi Ia paling tau yang terbaik bukan? “Semua sudah selesai—Aku berikan jawaban atas doa mu, jangan menunggu lagi.”

Ternyata yang ditulis, bukan berarti yang tertulis—di lauful mahfuz.

Share:

Rabu, 07 Juni 2023

Undangan dan kata Maaf

 

Baru kali ini aku temukan undangan pernikahan yang di sertai kata maaf di belakangnya. Seolah-olah ia—sang pengirim undangan—merasa bersalah karena telah menikah dengan gadis lain dan gadis itu bukan aku—si penerima undangan—, seolah-olah ia meminta maaf karena tidak bisa bersama ku setelah sebelumnya—menjanjikan pernikahan yang indah di akhir cerita kami.

Ku lihat foto praweddingnya, ada satu foto menggelitik ku—foto saat ia menatap sang calon pengantin perempuan dengan tatapan penuh cinta. Aku bertanya-tanya apa yang dimiliki gadis itu hingga ia memilih menikahinya? Bukankah aku lebih cantik—menurut ku aku jauh lebih baik, bahkan menurut teman-teman kami—selain gelar dokter milik gadis itu tentunya, aku tak kalah. Tapi gadis itu pasti punya sesuatu yang membuat ia memilihnya—sesuatu yang tidak ku miliki seperti memotong jarak dan waktu supaya lebih dekat. Jujur aku iri—terlebih tatapannya saat menatap calon istrinya, seolah penuh cinta—dan apakah kamu pernah menatap ku dengan penuh cinta juga?

Share:

Sabtu, 29 Oktober 2022

Bertemu kembali

 

Menginjakan kaki di Jakarta tidak pernah seperti ini rasanya—setelah sekian lama tentunya. Ada kerinduan menggebu-gebu di balik keberadaan ku disini—kalau dulu aku akan mengatakan ‘kini kita berada di langit yang sama—dikota yang sama’, tapi kini aku enggan mengatakannya walaupun tau kita kini berada di kota yang sama—dan masih saja di bawah langit yang sama. Tak bohong aku ingin berjumpa walaupun sekali, entah segaja-menyengaja—menatap mu setelah beberapa tahun tak berjumpa.

“Sekar?” Sapaan itu mengagetkan ku, menghentikan langkah ku dan roda koper yang ku tarik. “Sekar Sae?” Tanyanya penuh keraguan, menatap-dan menebak-nebak wajah siapa yang ada di balik masker yang tengah ku gunakan. “Hai.” Senyum sumringah yang lama tak ku lihat kini ada didepan ku, menatap ku seolah menemukan sesuatu yang sudah lama ingin di temukan. “Apa kabar?”

Semesta mendukung—baru saja ku dawamkan ingin ku bertemu dengan mu, dan begitulah kiranya pertemuan kita setelah sekian lama.

“Sedang apa di Jakarta?” Tanya mu sembari celingukan mencari orang di sekitar ku, memastikan dengan siapa aku datang.  “Kok bisa kebetulan ketemu ya?” Kamu terkekeh, aku masih tak berhenti menatap.

“Jodoh mungkin.” Jawab ku sembarangan, lalu disusul dengan tawa kecil.

Kamu salah tingkah dengan jawaban ku. “Mau kemana habis ini?” Tanya mu mengalihkan rasa gugup. “Mau makan siang bersama?”

 

Share:

Kamis, 29 September 2022

Mengijabahi do'a

 

“Kita pasti akan bertemu lagi—.” Ucapan ku itu membahana, menatap foto mu dengan nanar air mata. “Dan ketika kita bertemu lagi—kamu akan menyesal tidak bersama ku—mencampakan ku.” Sumpah serapah ku ucapkan tanpa perduli, lupa doa-doa ku dulu yang meminta kamu bahagia bersama dengan ku. “Kamu akan menyesal—kamu akan…” Tangis ku pecah, tanpa mampu melanjutkan kata-kata, aku berharap Malaikat lewat lalu memberitahu Tuhan agar mengijabahi do’a—sumpah serapah ku.

***

Waktu berlalu—dan benar saja ku temu kan kamu berdiri didepan ku, menatap ku—menerka-nerka benarkan yang ada dihadapan mu adalah aku, ragu-ragu untuk menyapa. Sampai pada akhirnya aku membalas tatapan keraguan mu, hingga kamu tersenyum lebar menyapa ku terlebih dahulu.

“Sekar, kan?” Kamu menghampiri ku, seolah lupa apa yang kamu lakukan di tahun-tahun lalu. “Apa kabar?” Aku menyeringai, tersenyum penuh kemenangan—Tuhan mengijabahi do’a ku.

“Kami akan bertemu lagi—dan di saat itu terjadi, kamu yang akan lebih dahulu datang.”

“Maaf kamu siapa—.” Ucap ku sambil tertawa. “Tidak pernah lebih baik dari hari ini.”

***

Semoga Tuhan mengijabahi—

Sekarsae

Share:

Rabu, 22 Juni 2022

Ra, aku pamit ya?

 Ra, aku lelah menunggumu. Bolehkah aku berhenti?

Tapi sebelum aku benar-benar berhenti—bisakah kamu menahan ku seperti dulu kamu menahan ku untuk pindah kampus? Kamu bahkan sampai bilang—kalau aku pergi kamu akan merasa kehilangan, kalau aku pergi—kamu pasti sedih.

Masih ingat dingatan kata-kata mu saat itu, yang menghentikan langkah ku. “—kalau kamu pergi, pasti ada rasalah.” Hanya dengan kata-kata itu, aku berhenti bermimpi. Ah, ku ralat. Karena kamu—aku berhenti bermimpi, karena kamu lah mimpi-mimpi ku.

Tapi sayangnya, kamu—mimpi yang belum atau tidak jadi kenyataan. Aku pun tak tau.

Ra, aku lelah menunggu. Aku berhenti ya? Aku ingin menikah, menghabiskan waktu dengan seseorang yang aku cintai dan mencintai ku. Aku pergi ya—sampai ketemu lagi. Disaat nanti kita bertemu, berjanjilah kamu akan menyesal karena tidak bersama ku. Berjanjilah untuk itu. Berjanjilah, aku akan menunggu penyesalan mu.

Share:

Minggu, 05 Desember 2021

Followers

Sudah sekian lama kita tak bersua, bahkan nomer telpon mu pun aku tak punya. Kita hanya saling meninggalkan jejak di instagram—saling memfollow namun tak pernah saling menyapa. Saling melihat namun tidak pernah saling meninggalkan komentar, seolah stalker yang sekedar ingin tau.

Walaupun ku selalu benci dan berkata—untuk apa saling follow kalau tidak pernah saling menyapa, tapi nyatanya kehadiran mu di salah satu dari banyak orang membuat ku bahagia. Tak bohong ada rasa bahagia saat ada nama mu berteger dibagian teratas melihat instagram stories yang ku bagikan—dan kesal ketika tak ada nama mu dibarisan itu.

Dan tak bohong pula—kalau aku ingin terlihat bahagia walaupun sekedar di media sosial, agar kamu tau—aku baik-baik saja, aku sudah baik-baik saja tanpa mu. Walaupun aku doakan kamu bahagia di ujung perpisahan kita—aku tak benar-benar rela kamu bahagia, jangan bahagia, jangan pernah bahagia jika bukan dengan ku.

Share:

Minggu, 24 November 2019

Si pencemburu yang tidak tau diri


“Aku pencemburu yang tidak tau diri—.” Aku menyebutnya itu sejak dulu sejak pertama kali sadar aku menyukai mu dan menyadari kamu sudah memiliki kekasih. Sebagai yang punya hati pada mu, aku sudah cukup terluka menyukai orang yang telah dimiliki. Apalagi pemilik mu sempat menghantam jantung ku sembari mengatakan kamu adalah miliknya.

Dan begitu senangnya hati ku ketika tau yang memiliki mu telah hilang, kamu tak berpemilik. Aku tau kamu sadar—setelah tau kamu tak berpemilik—aku semakin terang-terangan menyukai mu, diam-diam pun aku mendoakan mu dalam doa ku berharap Tuhan membolak balikan hati mu dan memberikannya pada ku. Walaupun dengan lugas kamu berpernah bilang tidak akan mau bersama dengan ku.

Peduli setan tentang itu—aku tidak perduli, berkali-kali kamu mengatakan ‘tidak mau’, berkali-kali aku bilang pada Tuhan agar makhluk takabur seperti mu dibungkam dengan cara menjadi mau dengan ku, mau menjadi milik ku.

Sampai pada akhirnya, di sore di hari bahagia mu—jadi hari yang kembali menyakitkan untuk ku. Kamu memang tidak bicara seolah ‘tidak mau’ namun sikap mu mengatakan itu, kamu tidak menghargai cara ku memperhatikan mu dengan berdalih kita hanya teman, dan aku tak punya bayangan di mata mu. Dan esoknya tanpa menunggu jeda kamu meruntuhkan langit-langit rongga hati ku. Hancur—berkeping, luluh lantah tak berbekas. Aku berserakan tak beraturan. Aku mencoba berdiri namun roboh. Aku hancur—tak sisa. Kamu kini tak sendiri lagi, kamu dengannya—pemilik baru mu, atau haruskah aku panggil ia—kekasih mu? 

Share:

Kamis, 19 September 2019

Egois, Bodoh, Posesif dan Gila


Si egois ini—begitu tidak senang melihat mu pulang kerumah.

Padahal ia tau alasan mu pulang kerumah untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan orang tua mu. Tapi pasti saja ada waktu mu untuk bertemu dengan gadis itu bukan? Dia—cemburu, takut kamu pergi berdua dengan gadis itu, membunuh waktu bersama dengannya.

Si egois ini—begitu sedih setiap mendengar mu hendak pulang.

Dua hari akan ia lewati tanpa melihat mu, terlebih ia tak punya alasan untuk menanyakan kabar tentang keadaan mu. Ia selalu kebingungan bagaimana membunuh waktu untuk tidak merindu. Dua hari terasa berhari-hari.

Si bodoh ini—meradang setiap melihat mu dengan gadis baru yang kini sedang kamu tunjukan pada dunia.

Sayangnya ia tidak bisa apa-apa, karena dia memang sejak awal bukan siapa-siapa. Dan sejak awal—kamu memang sudah menekankan kalau kamu dan dia hanya sebatas teman. Ya—sebatas teman, tidak mungkin lebih. Menyedihkan.

Si posesif ini—begitu iri setiap melihat mu tersenyum dan bicara ramah dengan yang lain.

Sedangkan sikap mu dengannya berbanding terbalik, padahal ia sangat senang melihat mu tersenyum. Ia bersedia mendengar tanpa bicara untuk mendengar celoteh mu tentang hidup.

Si posesif ini—pencemburu

“Cemburu?” Sergah mu. “Merasa memiliki, kah?” Sialnya kata-kata itu membuatnya tak berkutik, bagaimana tidak—kamu bukan miliknya bukan? Jadi punya hak apa Ia untuk mencemburui gadis lain.

Si Bodoh ini—menyukai mu dalam diam

Walaupun ia merasa kamu tidak begitu bodoh untuk tidak sadar rasanya itu ada. Rasanya pada mu itu nyata. Kamu hanya pura-pura bodoh agar tak melukainya. Bagaimanapun kedepannya tidak akan baik jika tau lalu menolak rasanya bukan?

Si gila ini—lupa

Sebagaimana ia punya hak untuk mencintai mu, kamu pun punya hak untuk tidak membalas rasanya.

Si egois, si bodoh, si posesif dan si gila ini—mencintai mu dalam diam.

Dari pada merusak semuanya. Ia tak tau bagaimana cara untuk mencintai dengan benar, ia tidak tau cara memulai dengan tepat. Yang ia tau hanyalah berdoa pada Tuhan, untuk memalingkan wajah mu kearahnya—walaupun setidaknya saat bicara dengannya.

Aku.







Fiksi yang di fiksi-fiksikan
Love, Sekarsae
Share:

Selasa, 10 September 2019

Kecewa


Aku terpaku, napas ku terhenyak, waktu ku terasa berhenti sesaat. Sekejap langit seolah runtuh menjatuhi tubuh ku, aku jatuh dan tak mampu bangkit. Tiba-tiba rasa kecewa menyusup, lagi-lagi aku merasakan ini untuk kedua kalinya dengan mu.

Pertama dengan gadis itu—dan kali ini dengan gadis lain. Menyesakan, memang.

Aku begitu bahagia ketika hubungan mu berakhir dengan ‘gadis itu’, berharap ada kesempatan untuk memiliki mu walaupun tak pernah ku khayalkan sebelumnya. Namun hari ini aku melihat mu (lagi) dengan gadis lain, gadis baru. Dan—aku terluka tanpa pernah memulai sebelumnya.
Aku pikir kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka, tapi ternyata—semudah itu kamu menyembuhkan luka dan membuka hati secepat kilat seolah tak pernah terluka.

Rasanya sakit—kecewa, terluka.

Haaaah. Tapi bagaimana lagi aku sudah peringatkan dari awal untuk tidak jatuh cinta lebih dulu. Pada akhirnya(?) Yang jatuh cinta lebih dahulu, akan terluka lebih dulu (pula).

Share:

Memeluk mu dalam doa


Jum’at sore, sebelum negara api menyerang.

Aku ingin lebih banyak mendengar mu bicara; apa saja—aku juga ingin mendengarkan apa saja, keluhan mu, cerita mu, sedih mu, bahagia mu bahkan doa-doa yang selama ini kamu panjatkan. Aku akan jadi pendengar yang baik untuk mu.

Aku ingin mengenal mu lebih baik (lagi) dan lebih banyak serta lebih dalam. Ingin tau apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Aku ingin jadi yang paling tau hingga tak bersikap tak menyenangkan didepan mu.

Aku—ingin jadi orang yang merengkuh mu, memeluk mu, menenangkan mu, menghapus air maya mu, menjadi tempat mu bersandar ketika tengah sedih, gundah dan menangis.

Aku—mungkin tidak pernah akan jadi yang pertama di hidupmu, tapi aku ingin jadi yang terakhir. Yang akan menemani mu sampai salah satu dari kita menutup mata.

Aku tak bisa banyak janji, aku bukan perempuan baik dan tak begitu cantik. Sifat dan sikap ku buruk bahkan kadang menjengkelkan. Tapi aku pastikan, aku akan menghormati mu, mencoba berbahagi cara untuk membuat mu bahagia dengan cara ku.

Dari seorang gadis yang diam-diam mendoakan mu di seperempat malam.


Share:

Selasa, 03 September 2019

Patah hati mu bahagia ku


Aku, tidak pernah sebaik yang kamu pikir.

Dibalik diam dan ketidakpedulian ku, aku berdoa semoga Tuhan memisahkan mu dengannya, meminta Ia menyadarkan mu bahwa ada yang jauh lebih baik dari kekasihmu yang sejak awal tak pernah ku sukai. Kamu pantas dapat yang jauh dan jauh lebih baik darinya.

Do’a itu ku panjatkan berbulan-bulan yang lalu, hingga terlupakan. Mungkin karena aku menyadari, aku tidak diposisi yang baik jika meneruskan rasa yang akan membuat kita saling tak nyaman. Aku membuat kamu berpikir aku menyukai orang lain dan itu bukan kamu.

Dan Tuhan mengabulkannya, ia memisahkan mu dan dirinya entah karena apa. Aku tak tau, kamu bukan orang yang bisa bercerita—apalagi dengan ku. Pengakuan mu tentang perpisahan mu dengannya membuat ku tertawa, aku menertawakan mu ketika mendengarnya, bahkan terbahak. Tapi aku menyadari—betapa jahatnya aku karena bahagia diatas rasa patah hati mu. Hingga aku tak berani bertanya—kenapa? Mengapa? Bukankah dia gadis yang kamu cintai?

Aku menghargai rasa patah hati mu, hingga memilih tidak bertanya. Aku biarkan, toh—walaupun aku bertanya, kamu tidak akan menjawab. Siapa aku—hingga perlu jadi tempat kamu bercerita?

Bagaimanapun jahatnya aku, ada satu do’a yang kupanjatkan untuk mu di sela pinta ku agar Ia memisahkan mu dengan gadis itu. Semoga kamu—diberikan gadis yang jauh lebih baik darinya, gadis yang memang kamu butuhkan—bukan gadis yang kamu inginkan. Berbahagialah walaupun tidak bersama dengannya, kamu hanya kehilangan seseorang yang belum tepat untuk mu.

Dari aku,
Yang tak pernah kamu lihat, bahkan tak pernah kamu tatap.

Share:

Rabu, 29 Mei 2019

Bukan sebuah candaan


Aku mendengar kabar tentang dirimu hari ini, katanya kamu di tolak oleh gadis yang kamu sukai—Dan itu cukup melukai mu, mengingat kamu menyukainya dengan sangat.

Sebenarnya bukan hanya mendengarnya, aku memang menyegajakan diri untuk menemui mu tanpa pesan, setidaknya aku ingin memastikan kamu baik-baik saja setelah adegan penolakan yang menyakitkan. Terlebih yang ku dengar, kamu ditertawakan setelah di tolak—bukan hanya olehnya tapi oleh yang lain juga—teman-teman mu?

Tau apa mereka tentang rasa suka? Apa rasa suka selucu itu hingga patut ditertawakan. AH—mereka berkata karena kamu begitu menggemaskan untuk dikerjai. Bagi ku, rasa suka tidak selucu itu untuk jadi bahan bercandaan, jadi sebuah alasan untuk mereka mentertawakanmu.

Mengatakan perasaan tidak semudah bicara, dibalik kata ‘aku menyukai mu’ ada setitik harapan untuk saling memiliki hingga mengalahkan rasa takut mendengarkan penolakan. Mengatakan perasaan tidak pernah sebercanda itu—hingga dijadikan bahan tertawaan.

Ku doakan kamu segera baik-baik saja, tetap semangat walaupun terluka. Namanya luka—ia akan segera kering seberjalanannya waktu, ia perlahan-lahan akan sembuh. Jadi—sampai saat itu, semoga kamu baik-baik saja.

Dari aku—yang ikut terluka karena kamu terluka, yang juga terluka karena kamu menyukai gadis lain dan itu bukan aku.

—Ide cerita dari seorang teman di kantor, di bumbuin sedikit biar makjleb jadi jangan hardfeeling nggak semua yang ku tulis karena terjadi pada diri ku sendiri—

Share:

Minggu, 07 April 2019

Trauma


Sebenarnya tidaklah mudah, membuka hati untuk seseorang setelah bertahun-tahun hati tertutup karena luka di masa lalu. Ada sedikit ketakutan yang ku panggil ia trauma, takut untuk kembali mengenal, mengagumi, menyukai, menyayangi lalu mencintai. Mungkin ini tidak akan terjadi kalau yang dulu bukan cinta pertama dan juga patah hati yang pertama kali.

Aku takut jatuh cinta lebih dulu, aku takut memulai semuanya dari awal seperti dulu hingga memilih menunggu, seolah waktu tidak akan berhenti pada ku. Aku masih begitu percaya, yang jatuh cinta lebih dulu akan terluka lebih dulu. Bagaimanapun pengorbanan yang aku lakukan, yang jatuh cinta lebih dulu—akan sakit telebih dahulu, entah itu karena cinta bertepuk sebelah tangan atau mungkin penolakan setelah diberikan harapan setinggi langit.

Ada satu hal yang lebih menakutkan dari jatuh cinta lebih dahulu, kamu tau apa—? Ya! Jatuh cinta sendiri, itu adalah kisah paling memilukan ketimbang jatuh cinta lebih dahulu. Dan paling mengenaskan adalah—ketika aku jatuh cinta lebih dulu dan bukan hanya itu—aku pun jatuh cinta sendiri, tidak dengannya, tidak pula dengan mu.

Share:

Minggu, 30 Desember 2018

Review 2018


Rasanya baru kemarin ku habiskan penghujung akhir tahun 2017 sambil inventory di carrefour ambarukmo plaza, dan tiba-tiba sekarang sudah ada lagi di penghujung akhir tahun 2018. Namun sayangnya kini aku sudah berada di perusahaan yang berbeda, ya—akhir maret aku resign dari carrefour—atau lebih tepatnya jadi Gagal TRDP—dan akhir november aku kembali tanda tangan kontrak dengan salah satu perusahaan yang cukup besar di kalimantan selatan. Dan seperti awal dulu, aku selalu merahasiakan dimana aku bekerja—dan kali ini pun demikian, aku merahasiakan tempat ku bekerja disini—hanya beberapa orang yang tau, sisanya ku bohongi.

2018—apa ya? Banyak yang terjadi. Jelas. Mari kita flash back sebentar, apa sih yang terjadi di tahun ini, sebelum tahun 2018 ini berakhir—btw hari ini aku akan menulis banyak hal di blog, karena sudah hampir 2 bulan tidak menulis apapun di blog, tulisan ini akan jadi tulisan terakhir yang aku post di tahun 2018 karena besok aku akan lembur di tempat kerja yang baru.

·         Januari, ulang tahun ku dirayakan sama teman-teman TRDP Carrefour Amplas, Rian, Gilang, Dian, Mba Bintang, Mba Yas, Widya, Mas Ozy, dkk. Dekat sama cowok tapi endingnya aing menyakiti hatinya.
·         Februari, panel TRDP dan dengan lantang minta nggak di luluskan—dengan banyak pertimbangan walaupun sebenarnya aku cukup bagus untuk lanjut, mengingat panel project ku di angka 53juta pertiga bulan terakhir. Habis panel kita ke punthuk setumbu, padahal seharusnya hari itu aku dapet shift siang buakakakaka!
·         Maret, be a gagal TRDP—tanggal 6 maret 2018, bahagia sekali rasanya. Dengan bahagia menatap pak Anto dengan mata berapi-api ‘saya memang minta untuk tidak lulus’. Namun pisah dari Mba Bintang, Mba Yas, Widya dan terlebih lagi Mas Ozy itu tidak semenyenangkan yang dipikirkan, terlebih aku nggak punya banyak teman di Jogya selain mereka di tambah Mba Dian—posisinya disini mas Gilang dan Rian sudah pindah. Walaupun kami tetap main bersama. Oh ya! Satu lagi—aku untuk pertama kalinya nge-gym! Wkwkwk norak, sampai setiap hari nge-gym. Huehehehe.
·         April, kerjaan bulan april hanya jalan-jalan, nongkrong ngalur ngidul, nonton drama korea, nonton film dan kebanyakan sama si Mba Dian. Hahaha! Nge-gym, ikut beberapa seminar yang diadain UGM. Belum terpikir untuk kembali bekerja, terlebih lagi baru melewati bulan-bulan yang berat karena berada dibawah tekanan pak Anto. Hmmmmm~ aku mau happy dulu walaupun teteup cari kerja dan jualan Dsae plus polaroid.
·         Mei, ibu dan langit datang ke Yogya, kita jalan-jalan keliling yogya dan ngajak Gilang—adik kelas waktu kuliah. Kita jalan-jalan ke prambanan, hutan pinus, pantai parang tritis. Langit pulang ke kalimantan lebih dulu, setelahnya aku lanjut jalan-jalan lagi sama ibu ke pekalongan plus batang.
·         Juni, bulan puasa—awalnya mau pulang libur lebaran aja, nantinya balik lagi ke jawa. Tapi ternyata(?) gara-gara diri sendiri sih sebenarnya, gara-gara nggak mau bayar kos, jadi mikir ya udah nggak usah ngekos dulu aja, eh tapi orang rumah malah ngira mau pindah kalimantan selatan aja.
·         Juli, kembali ke jawa karena nikahan mas Musa. Ada niat untuk jalan-jalan keliling jawa karena mumpung di Jawa, tapi—ada adegan jatuh dari kamar mandi jadinya nggak jadi deh. Syedih. Ketemu Uyo, Muti dan Khusnul—teman semasa kuliah di salah satu mall di jakarta
·         Agustus, Fella—sahabat dari SMP lamaran, sedih bet! Apalagi nggak bisa nemenin disana. Ikut Jobfair di Banjarmasin dan semua lamaran yang aku masukin di terima semua—sayangnya aku semuanya juga nggak aku datangin wkwkwkwk.
·         September, ikut adarospectrapreneur—disini mulai dapet temen ya walaupun emang nggak banyak. Tapi setidaknya aku punya temen—disini aku nggak punya temen selain ngerampok temennya langit untuk aku jadiin temen ku. Interview awal perusahaan ku yang baru, ke Banjarmasin sendirian—nggak tau apa-apa, cuma berpanduan sama Gojek dan juga google maps, hotel pun via airy room.
·         Oktober, aku bikin usaha snack.tanjung sama preloved.tanjung. COD-annya di tanjung wkwkwkwk, padahal rumahnya di Jaro. Motor yang di Jogja dikirim ke kalimantan—makin sedih karena bau-baunya bakal susah ke Jawa lagi L dan juga tanda tangan kontrak selama lima tahun, sempet galau sebenarnya huehehehe. Lima tahun lagi, usia ku sudah tidak muda lagi.
·         November, ke Rindaaaaaam! Wagelaaaaseeeeh(ini juga bakal aku ceritaain)~ in class, general class, functional class dan juga OJT di banjarmasin. Bulan penuh drama juga ini—dramanya bukan karena masalah kerjaan, tapi karena satu kos berdua -.- (next aku bakal ceritain)
·         Desember, dapat penempatannya di kelua. Dekat dengan ayah dan ibu, walaupun memang jarak tempuhnya satu setengah jam. Huehhehehe

Ya—sekian ceritanya, kali ini cukup membosankan kan? Ya! Aku tau kok, aku juga merasa sedikit bosan, bukan aku banget yang bisa cerita tentang diri ku sendiri di blog pribadi diri sendiri wkwkwkwkw! Tapi nggak apa apa, buat reminder diri sendiri. J

Tahun depan, ayo kita buat cerita menarik sebanyak-banyaknya. Semoga segera didekatkan jodohnya biar akhir tahun 2019 atau awal tahun 2019 bisa nikaaaaah! Yeaaaaaay! Aaaamiiiin



Share:

Antara Jawa dan Kalimantan


Sudah jalan tujuh bulan atau lebih tepatnya 206 hari aku sudah di pulau kalimantan, tepatnya kalimantan selatan. Tidak mudah—benar-benar sangat tidak mudah, terlebih lagi sudah dua belas tahun lamanya aku di Jawa—bahkan baru saat kuliah aku kembali ke kalimantan untuk sekedar liburan akhir semester. Bisa dibayangkan bukan? Aku yang selama dua belas tahun merasakan hirup pikuk kehidupan yang ramai, kini harus kembali ketempat ayah ibu ku yang harus ku tempuh 6 jam dari bandara.

Mungkin aku terlihat begitu dekat dengan ayah ibu dan adik ku, tapi sebenarnya? Aku merasa seperti orang lain di sekitar mereka. Aku mungkin tau tanggal lahir ayah ibu, tapi aku tidak tau apa makanan favorit mereka—menyesakan bukan. Aku adalah orang yang terakhir tau masalah keluarga yang ada di dalam keluarga ku. Aku—adalah orang yang tidak pernah didengar, karena memang aku benar-benar tidak tau apa-apa. Aku sayang mereka, tapi aku—tidak mengenal kedua orang tua ku sebaik adik ku mengenal mereka.

Kalau orang lain merasa senang jika bersama dengan orang tua mereka, tidak dengan ku. Mungkin karena aku belum menyesuaikan diri, aku terlalu bebas hingga rasanya disini sayap ku di potong.

Aku pun tidak banyak punya teman disini, teman-teman ku bisa di hitung dengan jemari tangan yang ku miliki. Terkendala bahasa adalah faktor utama, aku tidak enak kalau harus bicara bahasa indonesia terus menerus—takut dikira sok dan songong.

Tidak ada bedanya dengan di Jawa, disini tidak ada yang bisa ku panggil rumah. Aku tetap ngekos, tetap jauh dari orang tua. Lalu apa bedanya?

Tapi aku tetap melaluinya, terlebih sekarang aku punya pekerjaan disini. Aku mencoba menyesuaikan diri. Entah kelak aku bisa kembali ke Jawa atau tidak, ku pasrah saja pada yang kuasa. Dia paling tau yang terbaik.

Kalau ditanya “apakah kamu mau kembali kesana?” jawabannya “ya”, entah itu untuk sekedar liburan atau—untuk menetap.

Share:

Dilarang baper


Tribute to : salah satu teman yang jatuh cinta dengan teman sekantornya sendiri

Sadar atau tidak, kita tak pernah akrab sebelumnya, hanya tau sama tau—ngobrol pun rasanya tidak pernah walaupun kita berada ditempat yang sama. Kamu lebih memilih diam, begitupun dengan ku—sekarang aku bukan orang yang mudah untuk bicara terlebih dengan laki-laki.

Hingga suatu ketika ku beranikan untuk menggoda mu, memberikan gombalan ringan yang mengembangkan senyuman mu, ku lihat kaupun salah tingkah—membuat ku semakin semangat untuk menggoda mu. Kita pun mulai saling menyapa, kamu pun mulai berani untuk bercanda dengan ku, membalas gombalan ku. Walaupun ku sadari masih saja ada sekat di antara kita yang tidak bisa ditembus saat kita hanya berdua, aku masih saja tidak bisa jadi diri sendiri jika hanya berdua dengan mu. Ditambah lagi dengan sikap mu yang cool, cuek dan agak pendiam.

Sampai pada akhirnya aku menyadari kalau aku mulai tertarik dengan mu. Terlebih setelah menyadari dibalik sikap mu—kamu perduli pada ku. Dan lambat laun pun aku menyadari kalau kamu menarik dan aku tertarik.

Dan sayangnya rasa itu sepertinya harus terhenti, setelah aku pikir dan telaah—mana mungkin(?) mana bisa(?) Mungkin saja bukan kalau sikap baik mu hanya kedok, mungkin saja hanya karena aku teman kerja mu—atau mungkin saja kamu segaja(?) karena kalau sampai ketahuan, ada cinta di kantor—bukankah yang paling mungkin pindah adalah kamu(?). Tidak boleh ada cinta di kantor, bukan(?)

Share:

Someone like you



Aku bertemu seseorang seperti kamu disini, dia sangat mirip dengan mu sampai membuat ku mengingat mu. Begitu mirip hingga mampu membuat aku mengenang kisah masa lalu dengan mu—tentunya. Perbedaan padanya membuatnya membandingkannya dengan mu, lagi-lagi semua tentangnya membuat ku mampu menggambarkan dirimu pada dirinya.

Dia lebih tinggi dari mu, kulitnya lebih putih dan juga lebih bersih—tidak ada bekas luka ataupun bintik-bintik coklat di pipi— bibirnya tipis—matanya sayu sama seperti mu, hidungnya tidak terlalu mancung tapi tidak bisa juga ku sebut pesek, alisnya tebal,  rambutnya tertata rapi tidak seperti mu yang memanjangkan poni—walaupun itu dulu—. Suaranya hampir sama dengan mu, hanya tonenya sedikit berbeda. Dia lucu, beberapa kali ku temukan dia bercanda dengan teman-temannya. Ah! Satu lagi yang sama dengan mu, matanya tidak pernah beranjak pergi dari layar handphone. Entah itu untuk main game atau seperti mu saat sedang chat dengan perempuan lain saat bersama ku dulu.

Kami belum pernah berbincang, aku bukan gadis yang sama seperti dulu—yang bisa membuka pembicaraan. Kami hanya pernah berpapasan, saling menatap dan saling membalas senyuman. Hanya itu.

Melihatnya membuat ku mengingat mu. Membuat ku kembali mengenang masa lalu yang pernah ‘kita’ lalui bersama. Dan ketika aku mengenang masa lalu, aku membuka luka lama yang sudah ku kubur dan kulupakan.

Share:

Rabu, 17 Oktober 2018

Long Time No See


Sudah lama tidak menulis, aku tidak tau lagi apa yang harus ku tulis. Aku ingin menulis tentang mu—tapi aku tidak punya seseorang yang bisa aku panggil ‘kamu’. Memang ada yang ku harapkan, tapi pengalaman masa lalu membuat ku tidak ingin terlalu banyak bercerita tentangnya, aku tidak ingin membebaninya—dan aku lebih ingin Tuhan lebih banyak tau tentangnya ketimbang orang lain.

Dan dia terlalu indah untuk diceritakan dalam kata di sebuah tulisan, dia lebih indah untuk diceritakan dalam kata di antara doa-doa yang aku panjatkan di sela sujud ataupun saat tangan ku mengadah kelangit.

Dulu awalnya—aku berdoa agar dia menjadi jodoh dan masa depan ku, tapi setelah semakin mengenal Tuhan, aku pikir aku tidak boleh memaksanya. Ia-lah yang paling tau yang terbaik untuk ku, bukan aku ataupun siapapun di dunia ini.

Oleh karena itu, jika dia terbaik untuk ku—kemanapun kami berada, dimanapun, kapapun. Tuhan akan selalu mempertemukan kita, dengan bersama siapapun kita sekarang—Tuhan pasti punya jalan untuk membuat kita bersama.

Share:

Selasa, 26 Juni 2018

Kepada Hati Yang Ku Patahkan


Aku hanya bisa mengatakan maaf. Tak perlu mempertanyakan apapun, akulah yang salah. Aku terlalu terburu-buru hingga tak tau resiko yang ku timbulkan setelahnya. Tak seharusnya aku menerima hati yang belum benar-benar ku terima sebelumnya.

Terlalu banyak perbedaan, ditambah lagi aku bukan orang yang mau menerima seseorang dengan baik. Walaupun tidak bohong, aku ingin di terima dengan baik tanpa di cela sedikitpun. Egoisnya aku—aku merasa aku terlalu baik untuk dimiliki orang seperti mu, ya—begitu jahatnya diri ku. Bukan kamu yang harusnya minta maaf, akulah yang harusnya minta maaf. Aku menyakiti mu seolah kamu tak punya hati, seolah kelakuan ku tak akan menyakiti.

Jujur sekarang aku merasa begitu jijik, aku pikir jijik terhadap mu, tapi aku merasa jijik terhadap diri ku sendiri. Aku merasa begitu bodoh karena menerima pernyataan cinta mu, bukan karena perasaan mu itu omong kosong, bukan! Tapi—kenapa aku membiarkan seseorang masuk kedalam hidup ku padahal aku tidak pernah membayangkan dia menjadi bagian dari hidup ku? Membiarkan seseorang masuk dalam hidup ku padahal aku tidak benar-benar menginginkannya, menyukainya, menyayanginya dan mencintainya. Padahal itu semua hanya akan membuang-buang waktu ku—membuang waktu ku untuk menemukan apa yang ingin ku temukan.

Bukan hanya kamu hati yang ku patahkan karena keegoisan ku, ada beberapa orang lagi yang ku patahkan hatinya hanya karena keegoisan ku. Aku tau aku salah, aku pikir aku bisa berubah tapi ternyata tidak—belum. Aku belum bisa melakukannya. Aku pikir aku harus bertemu dengan orang yang ku cintai, aku harus mencintainya dulu dengan sangat, baru bisa menerima cintanya—sayangnya aku belum menemukannya.

Jadi jika kelak kamu menemukan seseorang seperti ku, pastikan membuatnya mencintai mu dengan sangat terlebih dahulu. Jangan terburu-buru menyatakan cinta dan memintanya menjadi kekasih mu. Karena aku yakin itu tidak berlangsung lama, kamu hanya menjadi kesenangan sesaat yang akan dibuang ketika ia bosan atau mungkin hanya menjadi penyesalan semata.

Sekali lagi, aku minta maaf. Semoga kelak kamu menemukan apa yang ingin kamu temukan. Jangan temukan gadis seperti ku lagi di hidup mu, kamu orang baik—orang baik akan bersama orang baik. Dan orang baik seperti mu, diciptakan bukan untuk orang seperti ku.

Dari yang mematahkan hati mu, Luna. 

Insiprasi : NetaZaneta (Ig : netaze | FB : NetaZa)


Share:

Minggu, 29 April 2018

Bolehkan kita menyebutkan nama seseorang dalam doa


“Bolehkan aku menyebutkan sebuah nama dalam do’a ku, Tuhan?” Tanya ku dalam ujung do’a ku. “Aku rindu menyebutkan sebuah nama dalam do’a ku seperti saat dulu.” Bisik ku dengan penuh takwa. “Tapi aku takut menyebutkan nama orang yang salah, aku takut mendo’akan nama seseorang yang bahkan tidak akan pernah menjadi seseorang dalam hidup ku.” Aku mengenang masa-masa dimana aku menyebutkan nama orang itu dalam do’a ku. “Aku takut akan sia-sia seperti dulu.” Desah ku.

Ya—karena pada akhirnya kami tidak bersama, do’a ku untuk bersamanya tak di ijabah—namun sepertinya memang Tuhan berkehendak lain, dia memang bukan yang terbaik untuk ku, maka dari itu Tuhan tidak mempersatukan kami, dia menggantikannya dengan hal lain, yang belum ku ketahui saat ini. Bukankah Tuhan tidak pernah menolak do’a hamba-hambanya yang meminta padaNya?Ya—Ya, tapi tidak sekarang, dan—aku punya plan yang lebih baik dari itu.

Aku selalu berdoa seperti itu, bertanya apakah boleh aku menyebut sebuah nama dalam do’a ku, aku takut melakukan kesalahan. Sampai pada akhirnya, aku mendengar jawaban Tuhan dari seorang teman baik.

“Boleh kok.” Jawabnya. “Sebut saja.” Ia tersenyum. “Ada orang yang bertanya, kenapa Tuhan tidak mempersatukannya dengan orang yang ia sebut namanya dalam do’a? Sedangkan ia melakukannya berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.” Aku mengangguk, bagaimanapun aku pernah melakukannya, aku tau posisi itu. “Karena kita terlalu memaksa Tuhan, bersikap seolah dirinya lah yang terbaik untuk kita. Padahal? Menurut Tuhan—dia bukan yang terbaik.” Aku mematung mendengarnya, kata-katanya memukul ku. “Tuhan itu baik sama kita, Sa. Tuhan nggak mau kalau loe jatuh ke orang yang salah jadi Tuhan tidak mempersatukan kalian.”

“Lalu bagaimana do’a yang benar kalau begitu?” Tanya ku dengan frustasi. “Apakah kita tidak boleh menginginkan seseorang? Apakah—.”

“Berikan Tuhan pilihan.” Potongnya. “Bagaimana kalau kata-kata ‘Tuhan, jodohkan aku dengannya’ di ganti dengan ‘Tuhan, jika dia adalah jodoh dan seseorang yang baik untuk ku—dekatkanlah. Namun jika tidak, maka berikan dia yang terbaik dan berikan pula aku yang terbaik, berikanlah aku laki-laki yang akhlak, sifat, sikap baiknya seperti dia—yang rajin beribadah, yang bagus hapalan sholatnya dan menyayangi keluarganya’.” Ucapannya membuat ku terpaku. “Bukan hanya berdo’a saja yang kita dapat, tapi juga bagaimana kita beribadah, berikhtiar, berharap dan iklas dalam satu waktu.”

“Bijak sekali.” Air mata ku menggenang di pelupuk mata.

“Kita bukan Tuhan, Sa.” Dia mengingatkan ku. “Jangan memaksa Tuhan, mintalah yang terbaik dari sisinya. Karena yang terbaik menurut mu belum tentu terbaik darinya.”

***

Inspirasi dari Dian Kurniaawati

Share: